Kesehatan

Bagaimana rasanya dieksekusi hukuman mati dengan guillotine

Apakah menyakitkan jika dieksekusi hukuman mati dengan guillotine? Apakah tetap sadar setelah dipenggal? Sayangnya tidak ada orang yang memiliki pengalaman langsung yang bisa menjawab pertanyaan itu. Namun demikian, kita dapat mengumpulkan cukup banyak bukti yang menunjukkan bagaimana gerakan terakhir saat dieksekusi hukuman mati dengan guillotine.

hukuman mati dengan guillotine

Guillotine adalah alat ikonik yang dirancang untuk memenggal kepala manusia dengan cepat menggunakan pisau besar yang jatuh. Ini senjata pilihan kaum Revolusioner Perancis pada abad ke-18, namun metode ini tetap menjadi metode eksekusi di negara tersebut hingga akhir abad ke-20. Orang terakhir yang dieksekusi dengan guillotine di Prancis adalah Hamida Djandoubi pada 10 September 1977.

Diperkirakan 15.000 hingga 17.000 orang sudah dipenggal selama Revolusi Perancis, sebagian besar dari mereka adalah rakyat biasa, bukan bangsawan kaya dan bangsawan yang dekaden. Salah satu alasan mengapa guillotine digunakan secara luas pada masa ini adalah karena dianggap manusiawi.

Era sulit dalam sejarah Perancis ini dipicu oleh ide-ide baru yang berusaha menggantikan kepercayaan irasional dan takhayul Abad Pertengahan dengan akal dan teori-teori baru tentang hak-hak manusia. Bahkan ketika memenggal kepala musuh bebuyutan, kemanusiaan dan martabat mereka harus tetap dihormati.

Seorang dokter Perancis yang menganjurkan penggunaan guillotine kepada Majelis Nasional Perancis pada tahun 1789. Saran tersebut pada awalnya ditertawakan namun Majelis Nasional menyetujui penggunaan guillotine pada tahun 1792 dan menyebutnya sebagai metode mematikan yang paling lembut.

Ada banyak laporan anekdotal yang menyebutkan bahwa kepala orang-orang tampak tetap sadar setelah terkena hukuman mati guillotine. Salah satu kisah paling terkenal terjadi pada tahun 1905 ketika Dr Jacques Beaurieux menyaksikan eksekusi seorang pria di Paris. Setelah pemenggalan kepala, Beaurieux menyadari bahwa kepala yang terpenggal itu masih bergerak dengan mata berkedut dan bibir mengejang. Dia memanggil nama penjahat itu yang membuat pupil matanya menyesuaikan dan mengarahkan pandangannya dengan tepat.

Namun sangat mungkin bahwa fenomena yang sering dilaporkan ini hanyalah kejang otot saat tubuh sedang sekarat dan bukan bukti kesadaran yang jelas pasca pemenggalan kepala. Untuk lebih memahami respons otak terhadap pemenggalan kepala, sebuah penelitian pada tahun 2013 memotong kepala beberapa tikus yang dianestesi dengan pisau guillotine mini, di mana para ilmuwan menggunakan elektroensefalogram untuk mengawasi aktivitas otak tikus tersebut.

Hal ini mengungkapkan bahwa aktivitas otak tikus mengalami peningkatan signifikan hingga 15 detik setelah dipenggal, menunjukkan bahwa hewan tersebut mungkin merasakan rasa sakit. Respon-respon ini menunjukkan bahwa tikus yang tidak diberi anestesi akan cenderung merasakan pemenggalan kepala sebagai hal yang menyakitkan sebelum timbulnya ketidakpekaan.

Jawaban yang lebih jelas terhadap pertanyaan ini mungkin akan segera muncul. Para peneliti terus bermain-main dengan gagasan transplantasi kepala, sementara pemahaman kita tentang kesadaran perlahan tapi pasti berkembang. Ada kemungkinan bahwa bidang studi ini suatu hari nanti akan membawa kita pada sebuah jawaban.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *